Logo

INOVASI ALAT MONITORING BALITA BERBASIS IoT UNTUK MENDUKUNG DIGITALISASI LAYANAN POSYANDU

Published on: 20 Agu 2026

Penelitian

Pelayanan posyandu saat ini umumnya masih identik dengan antrean panjang dan pencatatan manual menggunakan media kertas. Proses pengukuran parameter tumbuh kembang balita yang dilakukan secara terpisah dan bergantian sering kali menyebabkan ketidakefisienan waktu operasional serta rentan terhadap risiko human error atau kesalahan pencatatan oleh kader.

Di sisi lain, Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 telah mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dasar untuk menyelenggarakan Rekam Medis Elektronik (RME). Berangkat dari permasalahan operasional dan tuntutan regulasi tersebut, dikembangkan inovasi “Prototipe Alat Monitoring Suhu Tubuh, Tinggi dan Berat Badan Berbasis IoT” sebagai langkah konkret untuk mendigitalisasi layanan posyandu.

INTEGRASI TIGA SENSOR DALAM SATU PERANGKAT

Untuk dapat melakukan pengukuran secara presisi dalam satu waktu yang bersamaan, sistem ini menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali utama yang mengintegrasikan tiga jenis sensor fisis.

Pertama, sensor ultrasonik HC-SR04 digunakan untuk mengukur tinggi badan balita. Kedua, empat buah sensor Load Cell dengan kapasitas total 200 Kg yang dipadukan dengan modul penguat HX711 digunakan untuk mengukur berat badan. Ketiga, sensor inframerah MLX90614 adaptif termal digunakan untuk mendeteksi suhu inti tubuh secara non-kontak, sehingga proses pengukuran menjadi lebih higienis.

Sebagai pendukung mobilitas para kader di lapangan, alat ini beroperasi secara independen menggunakan sistem catu daya mandiri berupa adaptor AC ke DC 5V. Dengan demikian, perangkat dapat dihubungkan langsung ke soket listrik tanpa harus bergantung pada pasokan daya melalui kabel USB dari laptop atau komputer.

OTOMATISASI DAN PENYIMPANAN DATA KE CLOUD

Keunggulan utama alat antropometri ini terletak pada otomatisasi pendataan melalui teknologi Internet of Things (IoT). Setelah kader menekan tombol Start dan balita selesai diukur, hasil pengukuran suhu, tinggi, dan berat badan akan terkunci dan ditampilkan secara langsung pada layar lokal LCD 20x4 I2C.

Dalam hitungan milidetik, data tersebut kemudian ditransmisikan secara real-time menuju cloud database Google Sheets melalui jaringan internet. Penggunaan platform Google Sheets dipilih karena sifatnya yang praktis dan tidak membebani kader dengan pengelolaan server lokal yang rumit.

Sistem ini memastikan data rekam medis balita tersimpan secara otomatis, aman, transparan, dan dapat diakses dengan mudah kapan saja. Kehadiran sistem tersebut diharapkan dapat mendukung proses digitalisasi pencatatan dan pengelolaan data pada layanan posyandu.

TINGKAT AKURASI TINGGI DALAM PENGUJIAN LAPANGAN

Pengujian keandalan perangkat telah dilakukan secara langsung pada 15 balita sebagai subjek uji dengan rentang usia 1 hingga 4 tahun di tiga lokasi studi kasus, yaitu Posyandu Garuda, Posyandu Nangka, dan Posyandu Kurma.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa alat ukur digital ini memiliki tingkat keandalan yang sangat baik dengan rincian rata-rata akurasi sebagai berikut:

  1. Akurasi suhu tubuh: 97,62%
  2. Akurasi berat badan: 97,44%
  3. Akurasi tinggi badan: 94,38%

Selain memiliki tingkat presisi sensor yang baik, performa pengiriman data IoT atau latensi jaringan juga terbukti sangat cepat. Rata-rata waktu tunda (delay) pengiriman data tercatat hanya sebesar 512,13 milidetik.

Berdasarkan evaluasi kuesioner yang disebarkan kepada 30 responden yang terdiri atas 15 kader posyandu dan 15 orang tua balita, kehadiran perangkat ini mendapatkan respons positif dengan tingkat kelayakan pengguna sebesar 72,22%.

Alat antropometri berbasis IoT ini terbukti efektif dalam mempersingkat durasi pengukuran, mengurangi penumpukan antrean, serta menjadi salah satu pijakan penting dalam mendukung transformasi layanan kesehatan digital di tingkat dasar.

Berita Relative